Jumat, 10 Juni 2016

KEUTAMAAN SEDEKAH



KEUTAMAAN SEDEKAH
Apa sebenarnya keutamaan sedekah? Menurut Rasulullah SAW, ada empat keutamaan.

Pertama, sedekah justru mengundang rezeki. Semakin banyak bersedekah, semakin banyak rezeki melimpah. “Tidak akan berkurang rezeki orang yang bersedekah, kecuali bertambah, bertambah, dan bertambah”, sabda Rasulullah.
Kedua, sedekah bisa menyembuhkan penyakit. Karena sedekah dapat membersihkan hati dan pikiran, dampaknya secara psikologis dapat pula membantu penyembuhan, berkat ridha Allah SWT. Selain itu, Allah menjanjikan melipatgandakan ganjaran sedekah hingga 700 kali lipat. Dengan bersedekah Rp.100.000,- misalnya, bukan tak mungkin akan kembali Rp.70.000.000. Dan dengan uang itulah si sakit membiayi proses penyembuhannya.
Ketiga, sedekah dapat menolak bala, menahan musibah, menghilangkan kesulitan. Sabda Rasulullah, “Jika seseorang ingin dihilangkan kesulitannya, diringankan bebannya, ditolong atas semua permasalahannya, dia harus membantu mereka yang lebih susah, lebih menderita, lebih bermasalah. Dan bersedekah merupakan upaya terbaik untuk membantu orang lain.” Sabda Rasulullah SAW lagi, “Bersegeralah bersedekah. Sebab, musibah dan bencana tidak bisa mendahului sedekah.”
Keempat, sedekah dapat memanjangkan umur. Dengan bersedekah, kehidupan kita akan dipenuhi kebajikan. Selalu tumbuh kepuasan batin dan merasa lebih berbahagia, karena dapat membantu orang lain, dan semakin dicintai para sahabat. Dengan kebajikan, hidup menjadi lebih berkualitas.

Alkisah, pada 2003, seorang pedagang bubur ayam di semarang, Jawa Tengah, ingin sekali memberangkatkan ibunya pergi menunaikan ibadah haji. Demi mewujudkan niat tersebut, ia membuka rekening khusus untuk tabungan haji. Tapi, setelah dua tahun menabung, uang yang terkumpul baru mencapai Rp.5 juta, padahal tarif ONH waktu itu sekitar Rp.25 juta. Karena memang berniat baik, dan gemar membagikan bubur ayam kepada fakir miskin, Allah berkehendak menolongnya. Tak lama kemudian, tak disangka-sangka, ia memenangkan program undian berhadiah mobil mewah seharga hampir Rp.500 juta di Bank Mandiri tempat ia menabung. Karena tak sanggup membayar pajak, mobil itu ia jual kepada seorang hartawan.

Ajaib, mobil tersebut di beli dengan harga setengah miliar rupiah. Berarti Allah melipatgandakan tabungannya hingga 100 kali lipat. Walhasil, bukan hanya sang ibu tercinta yang pergi haji, si tukang bubur beserta istrinya pun berziarah ke Tanah Suci. Dan pulangnya menjadi tukang bubur yang kaya raya.

Suatu hari seorang pedagang dianjurkan oleh seorang ustad untuk bersedekah, padahal ia tak punya apa-apa lagi. Sang ustadz malah menganjurkan menjual satu-satunya harta yang masih dimilikinya, sebuah motor vespa, dan uangnya disedekahkan. Si pedagang menuruti nasihat itu. Baru saja berniat hendak menjual vespa, abangnya di swiss mengirim SMS, mengabarkan baru saja mentransfer uang Rp.30 juta.

Seorang insinyur punya utang Rp.2 milliar. Ia bingung. Suatu hari ia menemui seorang ustadz, dan ia dianjurkan untuk bersedekah. Padahal, ia sudah tidak punya apa-apa lagi. Namun ustadz itu melihat, ia masih punya sebuah arloji yang bisa dijual dan uangnya disedekahkan. Insinyur itu pun menurut, menyedekahkan satu-satunya arloji yang ia beli di Singapura senilai $S 3.000 (27 juta) itu dengan ikhlas. Tiga hari kemudian, ia mendapat proyek pembangunan senilai Rp. 5 miliar dan dibayar kontan di muka. Padahal, pembayaran lazimnya dilakukan setelah proyek selesai. Akhirnya, ia bisa melunasi utangnya yang Rp.2 milliar, dan menyedekahkan lagi uang sebanyak 1 miliar.

Pernah Terpikirkah Kita Menjadi Salah Satu Diantara Mereka?
Masih ada kisah mengenai keberkahan sedekah yang dialami seseorang marbot masjid. Ketika ia sedang asyik membersihkan masjid, tiba-tiba datang seorang ibu minta uang Rp.10 ribu untuk ongkos pulang. Si marbot punya Rp.15 ribu, dan langsung menyerahkannya kepada ibu yang sangat membutuhkan itu.

Seminggu kemudian, ia mendapatkan sumbangan uang dari para jamaah, khusus untuk si marbot. Setelah dihitung, jumlahnya mencapai Rp.1.5 juta.

Sekitar tahun 1980, seorang pedagang gorengan di jakarta, selama tiga hari melihat seorang bocah laki-laki lusuh berlalu-lalang dengan wajah sedih di depan gerobak dagangannya. Dia tahu, anak itu menginginkan sepotong-dua potong gorengannya secara gratis. Karena tidak berani minta, ia hanya memandang gerobak gorengan itu dari kejauhan.

Pada hari keempat, pedagang gorengan itu menyisakan sepotong buntut singkong goreng yang biasanya tidak dijual. Dipanggilnya bocah itu sambil mengacung-acungkan sepotong singkong kecil itu. Tak menunggu lama, si bocah lansung berlari menyambar singkong itu seraya berucap, “Terima kasih, bang.” Matanya berbinar, tapi senyumnya terkembang.

Dua puluh empat tahun kemudian, tukang gorengan itu masih berjualan di tempat yang sama. Suatu hari sebuah mobil mewah berhenti di depan gerobaknya yang diparkir di tengah perkampungan kumuh. Penumpangnya, seorang pria muda berpenampilan wah, menghampiri pedagang gorengan itu. Ketika berhadapan, si pedagang gorengan seperti tak peduli. Tapi ia bingung ketika si pemuda perlente itu mendadak berucap, “Bang, ada buntut singkong?”

“Kagak ada, Mas! Buntut singkong mah dibuang. Kenapa kagak beli yang lain aja? Noh, ada pisang sama singkong goreng”, ujar si pedagang gorengan itu.

“Saya kangen ama buntut singkongnya, Bang. Dulu, Abang kan pernah ngasih saya buntut singkong goreng,” jawab pemuda itu, tersenyum

“Dulu, ketika saya masih kecil, dan ayah saya baru saja wafat, tidak ada yang membiayai hidup saya. Temen-temen mengejek karena saya tidak bisa jajan. Selama empat hari saya berlalu-lalang di depan gerobak Abang ini, sampai Abang memanggil saya memberi sepotong buntut singkong goreng yang langsung saya sambar,” tuturnya.

Si pedagang gorengan terperangah. Dia tidak mengira sepotong buntut singkong, yang biasanya dibuang, bisa membuat pemuda itu mendatanginya dengan keadaan yang benar-benar berbeda. Si pedagang akhirnya ingat pada wajah yang pernah dikenalnya 24 tahun silam. “Yang saya beri dulu kan cuma buntut singkong. Kenapa kamu masih ingat sama saya?” tanya pedagang itu penasaran.

“Abang tidak sekadar memberi saya buntut singkong, tapi juga kebahagiaan,” papar si pemuda itu, lalu bercerita bahwa sesaat setelah menyambar singkong itu dia langsung memamerkannya kepada teman-temannya, ingin membuktikan bahwa dia masih bisa jajan. Sesuatu yang dianggap remeh, tapi baginya itu membuatnya sangat bahagia sehingga ia berjanji suatu saat akan membalas budi baik pedagang gorengan itu.

“Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Abang. Tapi, saya ingin memberangkatkan Abang berhaji. Semoga Abang bahagia”, ujar si pemuda. Pedagang gorengan itu hampir-hampir tidak percaya. Dua puluh empat tahun silam ia telah membahagiakan seorang anak yatim. Maka Allah pun membalas amal shalihnya itu, sebab ayahanda semua anak yatim adalah Rasulullah SAW.

Ada lagi kisah seorang pasien yang menurut dokter sudah tak punya harapan hidup lagi. Menyadari nasib buruknya itu, si pasien berusaha membuat sisa umurnya yang tinggal sedikit untuk beramal shalih.

Ia mengumpulkan delapan bayi yatim yang masih merah, merawatnya dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Ketika saat-saat terakhirnya (menurut perkiraan dokter) sudah tiba, anehnya ia justru lebih sehat. Bahkan sampai kini ia masih hidup. Malah, antara lain, ia menjadi ketua grup senam beranggotakan 2.000 orang. Bayi-bayi yang dirawatnya pun sudah dewasa, bahkan sudah ada yang menikah. Allahu akbar!
Sedekah untuk Mempermudah Perjodohan

Percaya atau tidak, sedekah ternyata juga dapat mempermudah seseorang mendapatkan jodoh. Ini kisah tentang seorang wanita berusia 30-an tahun yang sulit mendapat jodoh, tapi tiba-tiba dilamar empat pria. Sebagai muslimah yang baik, ia berserah diri kepada Allah SWT, dan satu-satunya tempat curhat adalah kakeknya. Sang kakek pun menyarankan agar ia rajin bersedekah.

Ia lalu datang ke sebuah masjid yang sedang dalam tahap pembangunan, minta perincian harga empat macam bahan material yang sedang dibutuhkan oleh panitia pembangunan.

Maka ia pun menyerahkan uang sejumlah harga untuk membeli bahan material yang dibutuhkan. Beberapa waktu setelah itu, datanglah seorang duda berniat mempersuntingnya, tapi ayahnya tidak setuju.

Di hari yang lain bertandanglah seorang pemasok berbagai jenis barang, juga berniat untuk melamarnya, tapi kali ini ibunya tidak setuju.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pria ingin mempersuntingnya, tetapi keburu pria itu dijodohkan dengan sepupunya, hingga urunglah niatnya untuk melamar si wanita idaman.

Di lain waktu, ia diperkenalkan dengan seorang pemuda dalam sebuah acara di masjid. Hari demi hari berlalu, hubungan mereka semakin dekat, dan si pemuda pun bermaksud melamarnya. Agar hati lebih mantap, wanita itu menunaikan shalat Istikharah, mohon petunjuk kepada Allah SWT. Kemudian ia bermimpi melihat matahari terbit, dan ternyata pemuda itulah jodohnya.

Lihatlah isyarat yang semula tak tampak tapi belakangan kelihatan jelas, empat macam sumbangan untuk pembangunan masjid agaknya isyarat empat pria yang datang melamar. Namun, sang wanita tetap menyerahkan pilihannya kepada Allah, Sang Pemberi Jodoh. Dan mimpi tentang matahari terbit itu ternyata jadi kenyataan: calon suami wanita itu bernama Syamsul Falah, si matahari kemenangan.

Jangan heran jika sedekah juga mampu mengembalikan suami yang hilang. Suatu hari, seorang ibu menerima kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan, dan ia harus membayar biaya perawatan sampai puluhan juta rupiah. Padahal ia tak punya harta yang nilainya sebanyak itu.Tapi, ketika ia menjenguk ke rumah sakit, ternyata suaminya raib. Setahun sudah suaminya hilang.

Suatu hari ibu tersebut mengadukan halnya kepada seorang ustadz, yang menyarankannya untuk bersedekah. Tapi, si ibu bilang tak punya harta apa-apa, dan untuk makan saja sulit.Tiba-tiba, ustadz itu melihat sebentuk cincin yang melingkar di jari manisnya. “Cincin itu juga bisa disedekahkan” , ujar ustadz itu.

“Tidak mungkin. Ini satu-satunya benda peninggalan suami saya,” katanya.

“Lho, justru itu. Nilai sedekah akan sangat tinggi bila yang disedekahkan adalah benda yang sangat dicintai,” kata ustadz itu lagi. Akhirnya, ia menjual cincin tersebut dan menyedekahkannya ke sebuah yayasan yatim piatu. Setelah itu, dengan langkah ringan ia pun pulang. Dari kejauhan rumahnya tampak sepi. Biasanya setiap sore anak-anaknya bermain di halaman.

Ketika ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam seperti kebiasaannya, mendadak ia terperanjat. Begitu pintu terbuka, yang tampak adalah wajah suaminya. Orang yang selama setahun hilang, tiba-tiba kembali pulang, entah dari mana, Sub-hanallah!

Sedekah juga bisa menolak mara bahaya. Suatu pagi, seorang ustads di Tangerang bersedekah kepada rekannya sesama ustadz. Menjelang sore, ustadz itu pergi ke Gunung Putri, Bogor, hendak mengajar. Di jalan tol, tiba-tiba mobilnya bertabrakan dengan mobil lain, tapi alhamdulillah ia selamat. Sang ustadz tidak heran, karena itu pasti kehendak Allah. Ia berkata dalam hati, “Mungkin karena tadi pagi saya sudah bersedekah.”

Seorang ibu selamat dari bencana tsunami di Aceh beberapa waktu lalu. Sebelum bencana, dia dan seluruh warga bergotong royong membangun masjid yang belum beratap, berpintu, dan berjendela. Ketika bencana tiba, seluruh warga selamat karena berlindung di dalam masjid yang mereka bangun.

Banyak hikmah berharga yang bisa dipetik dari kisah-kisah di muka. Kata Ustadz Yusuf Mansur, “Kalau mau rezeki dicukupkan oleh Allah, kita harus mau berbagi. Dengan jalan bersedekah. Siapa yang membutuhkan pertolongan dan kemudahan dari Allah, berbagi menjadi sebuah keharusan. Sebab, Allah akan membantu hamba-Nya jika ia mau membantu orang lain.”

Apalagi Allah juga berjanji akan mengabulkan permintaan yang keluar dari mulut orang yang tangannya rajin memberi. Sang Maha Pemurah selalu punya cara untuk melimpahkan rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki- Nya. Berkah sedekah hanya bisa dirasakan oleh orang yang bersedekah. Tapi, ia juga harus ikhlas. Akibat yang baik selalu berawal dari perbuatan baik.

Jika kita mengabaikannya, boleh jadi harta karunia Allah itu akan ditarik kembali. Kalau tidak ditarik kembali, bisa jadi pemiliknya akan kehilangan rasa menikmati. Memiliki harta berlimpah, tapi tergolek tak berdaya di tempat tidur, terkena stroke, hingga kaki dan tangan lumpuh, apa gunanya. Atau terkena penyakit gula, asam urat, kolesterol.

“Karena itu, janganlah kikir dalam bersedekah. Kekayaan yang ditimbun hanya akan menjadi beban di hari kiamat. Allah sudah memperingatkan, kekayaan yang ditimbun dengan sikap kikir akan dikalungkan di leher pemiliknya”,

“Barang siapa berniat sedekah, kecepatan Allah membalasnya lebih dari gerakan sedekahnya.” (Hadist Qudsi)

Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Suatu hari datanglah dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita tentang sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bus antarkota, beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan, bus yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua akhwat itulah yang selamat dengan tidak terluka sedikit pun.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya waktu itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafadzkan zikir. Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, inilah sebagian dari keutamaan bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya pada saat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka. ALLAH adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang hampir setiap desah napas selalu membangkang perintah-Nya, Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira. Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, pasti akan kembali kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada di genggaman kita.

Demi Allah, semuanya datang dari Allah yang Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh keikhlasan. Kemudian kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak. Dari pengalaman kongkret kedua akhwat di atas, dengan penuh keyakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya. Boleh jadi, inilah yang menyebabkan Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan sedekah. Saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, bahwa perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji.

Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah: 261). Seruan Rasul itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya Rasulullah, harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah". "Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah SAW. Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya Rasul, saya akan melengkapi (menyumbang) peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam. Kenapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan untuk bersedekah? Tiada lain karena mereka yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Sedekah adalah penyubur pahala, penolak bala, dan pelipat ganda rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!
Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?".
Allah menjawab, "Ada, yaitu besi".
Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebihkuat dari pada besi?".
Allah menjawab, "Ada, yaitu api".
Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat
dari pada api?".
Allah menjawab, "Ada, yaitu air".
"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?," tanya para malaikat.
Allah pun menjawab, "Ada, yaitu angin".
Akhirnya para malaikat bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?".
Allah yang Mahagagah menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya"."

Wallahu a"lam bish-shawab.
Sumber : KH Abdullah Gymnastiar, http://republika.co.id

Senin, 06 Juni 2016

Gontor Bangun Peradaban Dunia



Gontor Bangun Peradaban Dunia
            Berbicara mengenai peradaban, berarti berbicara mengenai hal yang sangat luas karena mengenai manusia dan perkembangannya, dalam bahasa Arab bisa diartikan secara umum dengan kata hadhoroh yang mengandung arti perkembangan kelompok manusia dalam suatu daerah baik yang terlihat nyata maupun tidak. Antonim dari kata hadhoroh adalah baadiyah. Yaitu sekelompok orang yang berpindah-pindah tempat setelah tempat itu tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
            Perdaban modern saat ini cukup untuk menyilaukan mata bagi mereka yang memang tidak mengetahui hakikat dari sebuah peradaban. Bukanlah peradaban itu hanyalah bangunan yang mewah nan megah, bukan pula teknologi yang berkembang pesat, atau pengaruh sebuah Negara kepada Negara lainnya, melainkan peradaban adalah seperti yang telah dicontohkan oleh islam, sebuah peradaban terbesar di dunia.
            Dalam Al-Quran ada konsep yang menarik mengenai peradaban, hal ini secara tidak langsung dapat dipahami dalam surat Ibrahim ayat 24-25, diibaratkan peradaban manusia, itu bagaikan pohon (syajaroh) yang akarnya kuat dan batangnya tinggi menjulang, yang darinya tumbuh cabang-cabang yang rimbun, dasar yang kuat inilah yang paling berpengaruh terhadap sebuah sejarah peradaban manusia, dasar itu adalah kalimat yang baik yaitu kalimat tauhid, betapa hebatnya sebuah peradaban yang dimulai dari sebuah kalimat tauhid sehingga menjadi teladan dari peradaban bangsa-bangsa di dunia ini.
            Dalam sejarahnya peradabannya Islam tidak banyak meninggalkan bangunan-bangunan megah, akan tetapi peradaban Islam meninggalkan tradisi kelimuan yang sangat tinggi, maka peradaban yang nyata adalah peradaban keilmuan seperti yang dicontohkan oleh Islam dari asal mula Islam berkembang tradisi keilmuan sudah sangat kental dilaksanakan, bahkan tradisi ini terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi.
            Peradaban Islam yang sangat maju itu dapat disaksikan dalam berbagai sejarahnya bahkan pada masa pemerintahan Umar bin Abdil Aziz setiap penduduknya dan masih banyak lagi contoh dari kemakmuran bangsa yang melandaskan Islam sebagai landasannya. Seorang penyair Abu Atahiah berkata “sesungguhnya sebuah bangsa akan eksis dengan akhlaknya. Maka jika akhlaknya hilang, binasalah bangsa tersebut”. Bahkan rasa amanpun akan dirasakan seperti halnya udara yang selalu menyejukkan raga Al-Jalad seorang sufi berkata “Kalaulah bukan karena kerendahan hati (akhlak), maka setiap langkah, kami merasakan ancaman”.
            Indonesia yang merupakan Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia mempunyai system pendidikan Islam yang diturunkan dari generasi ke generasi, itulah pesantren, saat ini pesantren masih berkembang di Indonesia. Banyak pesantren-pesantren yang telah melahirkan tokoh-tokoh sentral pada masa perjuangan kemerdekaan ataupun pada masa kini. Sistem pendidikan pesantren tidak dapat dipungkiri merupakan hasil asli dari peradaban nusantara, mempunyai sistem asrama, kyai sebagai sentral figurnya dan masjid meruapakan sentral kegiatannya, santri (murid) di dalamnya belajar selama 24 jam.
            Ada berbagai macam pesantren di Indonesia, tetapi secara umum dalam kesehariannya santri disibukkan oleh berbagai kegiatan yang positif, lepas dari lingkungan yang tidak kondusif, kesehariannya ia tetap focus terhadap tugasnya yaitu belajar. Ada hal yang unik mengenai belajar di pesantren, bahwa di pesantren bukan hanya belajar pelajaran-pelajarannya saja akan tetapi belajar menghormati atau memuliakan ilmu dan guru (‘ulama) atau dalam bahasa Arabnya yang sering di ucap dengan ikraamul ulum wal ulamaai. Mungkin ada sebagian dari sekolah-sekolahan atau lembaga pendidikan lain yang hanya ikraamul ulum saja tanpa adanya ikraamul ulamaai karena ini yang sudah hilang dari mereka. Hal ini dijalani seorang santri selama kurun waktu yang cukup lama dan jika seseorang berada dalam lingkungan yang kondusit selama itu, maka hal-hal yang positif akan menjadi kebiasaannya.
            Kebiasaan-kebiasaan yang baik ini yang nantinya akan memberikan efek yang sangat besar bagi sebuah komunitas, seperti halnya yang terjadi Jepang saat ini, tidak ditemukan kemacetan pada hari hari kerja, setiap orang berdisiplin waktu dan mendisiplinkan dirinya dalam transportasi untuk membentuk sebuah kepribadian seperti itu, bukanlah perkara yang mudah dan sebentar, mendisiplinkan dirinya selama 16 tahunlah yang membentuk masyarakat Jepang berdidiplin, dalam pesantren bertahun-tahun dalam kondisi yang baik diharapkan cukup untuk membentuk pribadi yang baik. Maka lingkungan yang baik ini akan membentuk pribadi yang baik pula.
            Membangung sebuah peradaban memerlukan individu-individu yang memahami konsep islam secara sempurna, baik mentalitas maupun keilmuannya, itulah tujuan yang harus dicapai dalam pendidikan, kebaikan individu secara menyeluruh  ini akan berpengaruh terhadap lingkungan yang lebih luas cakupannya. Maka cerita di atas pun tentang berita di Indonesia mungkin tidak akan pernah terjadi jika mentalitas dan keilmuan anak bangsa mencukupi.
            Di pesantren ada keselarasan dua tujuan pendidikan tersebut yaitu mentalitas dan keilmuan, murid-murid di pesantren berasrama di didik untuk membentuk karakter dan keilmuan yang kuat, yang akhirnya ketika keluar dari pesantren ia memiliki motivasi yang kuat menghadapi situasi terburuk sekalipun, dengan asas tauhid yang diajarkan dalam pesantren, diharapkan seseorang akan menjadi pribadi yang lebih baik. Maka tidak berlebihan jika pesantren merupakan pilihan utama bagi bangsa Indonesia untuk membangun dasar yang kuat, sehingga bangsa ini bahkan “DUNIA” seklipun menjadi yang memiliki peradaban dan beradab.
            Maka beruntunglah kita yang melanjutkan dan mengenyam pendidikan di pesantren, contohnya di Pondok Modern Gontor ini. Pondok yang memiliki peradaban islami yang mengeksplorasi potensi, menuju pengembangan yang positif, berbarengan dengan lajunya perkembangan peradaban, peradaban dunia yang tidak bisa di hentikan atau dihindari. Inilah salah satu cita-cita para TRIMURTI bahwa segalanyadimulai dari GONTOR termasuk peradaban juga, karena kegiatan-kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan yang ada di pondok ini harus berunsurkan keislaman, keilmuwan dan kemasyarakatan. Wallahu a’lam
 oleh Ust. Fawwas

Senin, 28 Desember 2015

Bolehkah Untuk Itu?

Bolehkah untuk itu?
Oleh : @AyuAyusafa
Rindu tlah lama mengendap di dada
Membumbung tinggi seperti uap udara
Tak kenal waktu pagi ataupun senja
Rasa itu terus saja memancing gelora
Dua insan yang tlah lama dipisah oleh waktu
meski tak tau kapan akan bertemu
Dengan sadar mereka mengerti akan sesuatu
Ternyata rindu semakin membuat mereka menyatu
jika ada kata untuk itu, seperti ini bunyinya :
Jika jarak itu palsu bagaimana dengan rindu?
Tetapi jika jarak itu nyata bagaimana dengan cinta?
Wahai pemilik kehidupan, sepertinya itu adalah asmara
Bolehkah untuk itu?

Bondowoso, 8 november 2014

HILANG

HILANG


Jika kebahagiaan telah menguap
Embun pun kalah cepat menjadi uap
Hingga  Waktu terus menunjukkan keperkasaan
Tak mau berhenti di tengah kesulitan
Meski ada seorang ingin menahan
Tetapi ia terus berjalan, membuka alur masa depan
Perlahan namun pasti
Waktu terus membuatku semakin mengerti
Bahwa semua yang ku miliki
Bukanlah hak milik pribadi
Layaknya hadiah dari langit untuk bumi
Segalanya, hanyalah titipan Ilahi
Waktu berhak datang sewaktu waktu
Menarik semua putih menjadi kelabu
Mengambil sebuah kebersamaan menjadi rindu
Menjadikan Semua yang berwujud menjadi semu
Kini semua yang ku miliki menjadi berlalu
Hingga, Hilang tak terelu…







BONDOWOSO, 23 DESEMBER 2015

Rabu, 01 Juli 2015

Menjalani TaqdirMu

     Hari ini tepat 25 hari terakhir, sebelum aku kembali lagi untuk menuntut ilmu disana, tempat yang sudah Allah pilihkan untukku. Ya aku katakan Allahlah yang memilihkannya untukku karena waktu itu aku memang benar benar tak dapat memilih sekolah mana yang baik untukku. Tapi Alhamdulillah petunjuk yang kupinta kepadaNya melalui sholat istikharah pun segera datang akhirnya aku sekarang berhak untuk menyandang gelar santri. Oh Tuhan yang Maha Pengasih terima kasih atas limpahanMu selama ini. Bukan maksud untuk menjadi hambaMu yang kufur nikmat Tetapi ini yang hamba rasakan sekarang ya Allah....


Terlena dengan kenyamanan ini
Rasanya tak ingin kemana mana lagi
Tapi sadar, ini hanyalah bisikan hati
Yang harus ku pungkiri
Karena ku akan selesaikan ini
Sampai ke titik dimana aku bisa pergi
Baru Ku bisa tersenyum dengan kesuksesan sejati

Hanya Engkaulah yang dapat membimbingku, kemana aku akan menuju oh Tuhanku, maka bimbinglah langkahku kemana pun aku harus melangkah. Menjalani taqdirMu...

Sabtu, 27 Juni 2015

Aku Untuk Kalian


    lama benar tak menyentuh media ini, bukan karena tak ada waktu tapi karena aku memang tlah menuju sekolah baruku. disana tak tinggal diam tentunya. sengaja menuliskan semuanya di kertas menggunakan tangan sendiri ku tuliskan semua apa yang terjadi agar bisa kubagi setelah aku pulang ke sini. dan ini adalah salah satunya :

Aku Untuk Kalian
oleh :  @AyuAyusafa
Rata jalanan aspal dengan tenang menerima roda kendaraan
Disampingnya pohon membuka ranting serta dahan
Burung-burung mulai beterbangan merasa terusik oleh suara mobil di jalan
Di ujung sana kelopak-kelopak bunga mulai memamerkan keindahannya
Satu-persatu menari bergantian di atas tangkainya
Harum semerbak pun muncul di setiap benang sari miliknya
Serta angin tak mau kalah menarik mata siapapun yang memandangnya
Terucap syukur kepada-Nya
Karena keindahan alam ciptaan-Nya
Sebuah lukisan nyata luar biasa
Yang tak satupun orang punya kuas yang sama
Jika melihat ke atas, gumpalan-gumpalan putih awan
Membuat barisan membentuk tulisan “Selamat Datang”
Sengaja semua dendang alam ini memamerkan keelokannya
Telah mempersiapkan segala rancangan untuk menyambut kedatangan seseorang
Orang yang telah lama meninggalkan kampong halaman
Demi ilmu untuk bekal masa depan
Mencari pengetahuan untuk memberantas kebodohan
Sedangkan sekarang orang itu kini telah dating
Menjawab semua keindahan seseorang
Melihat kembali suasana tanah kelahiran
Menginjak lagi tanah kampong halaman
Ya ! aku pulang, karena aku untuk kalian